Sukan SH dan Catatan Lepasnya

P { MARGIN: 0px }

Mahasiswa Idialis Yang Rapuh, Dalam Persimpangan Jalan

( Catatan Lepas Sang Parlemen Jalanan)

Oleh: Sukan SH

(Aktivis CENCIST Lumajang dan Gerakan Pemuda Bangkit)

Tulisan ini bukan untuk mempropokasi atau ingin menyudutkan, tapi murni tulisan ini merupakan hasil dari sebuah perenungan yang mendalam dari sebuah pergulatan gerakan. Belajar dari sebelum, saat, dan sesudah menjadi mahasiswa apalagi hidupnya di habiskan dalam dunia ideal yaitu aktifis dan akademis. Seperti yang pernah dikatakan seorang teman kepada saya “Tidak Ada Mahasiswa Idialis Saat Ini, Yang Ada Hanya Idialis Mahasiswa”. Saya sendiri tadinya tidak setuju dengan apa yang dikatakan teman saya ini, tapi sebuah fenomena dan bukti empiris yang dapat kita amati menunjukan hal tersebut. Sejenak ku berfikir kritis dan membuka kembali lembaran fakta empiris dalam dunia pergulatan seorang aktivis maka Kalau kita mau mengadakan penelitian di lembaga Legislatif/ DPR, mungkin hampir mendekati 60 % anggota dewan dikala mahasiswanya merupakan para mahasiswa yang menyuarakan idialisme, berorganisasi, demontrasi bahkan menggugat sistem. Tapi apa yang terjadi setelah mereka ada didalam system, mereka bahkan lebih memperparah kerusakan system itu sendiri yang dulunya mereka gugat. Lantas kemanakah idialisme mereka dahulu?, begitu juga tidak jauh beda di lembaga lain semisal Ekskutif dan Yudikatif kita.

Jawabannya sederhana dan cukup elegan untuk di perdebatkan dalam diskusi untuk menjawab pertanyaan diatas. Idialisme adalah sebuah metode untuk menawarkan diri bagi mereka. Dunia mahasiswa adalah sebuah moment yang tepat untuk mempromosikan diri dan berpura-pura berprilaku idialis merupakan metode advertising yang ampuh agar kita dikenal, diperhitungkan dan tentunya menjadi sasaran untuk direkrut kedalam system. Ini bukan isapan jempol. Sebagai bukti/fakta empiris, ketika dahulu ada seorang mahasiswa vocal berdiri pada front terdepan dalam menggugat orde baru dengan beringinnya, bahkan ia-lah yang dengan lantang mengatakan agar beringin dibabat tuntas. Tapi apa lacur ketika beringin menawarkankenyaman yang menggiurkan kepadanya. Ia berkata “beringin sekarang berbeda dengan beringin dahulu, beringin sekarang memiliki visi meneduhkan bagi bangsa ini kedepan”. Kemana idialisme yang dahulu ia teriakan?. Inilah yang oleh teman saya (tentunya sangat idialis yang merasa sedih karena perjuangannya dimasa kuliah (Aktivis dan Akademis) untuk memperjuangkan reformasi justru menjadi boomerang. Tidak ada perbaikan yang signifikan pada bangsa ini bahkan justru semakin tidak menentu dan rakyatlah yang menjadi korbanya), disebut “Idialis Mahasiswa”, yaitu mahasiswa yang tahu memanfaatkan moment untuk mempromosikan diri dan memetik hasilnya disaat yang tepat.

Dunia mahasiswa adalah dunia gejolak, dimana semangat diri terus berkobar. Berteriak, demontrasi, menggugat dan menghujat merupakan sebuah pekerjaan wajib sepertinya bagi mahasiswa dalam wilayah peran mereka sebagai agent of change (bahasa elitenya). Tapi benarkah peran itu disadari secara kaffah atau jangan-jangan hanya menjadi alat pemasaran diri?. Mahasiswa idialis tidak akan pernah lupa akan apa yang ia yakini dan itu tertanam dalam sanubari mereka sampai kapanpun, menjadi idiologi mereka yang tidak tergadaikan. Tapi idialis mahasiswa? Tentunya ia tahu untuk apa ia melakukan apa yang ia lakukan secara matematis ekonominya. Untung dan rugi tentulah telah diperhitungkan dengan seksama dan tentulah telah pula memperhitungkan gold yang ingin dicapai dengannya.

Itu artinya apa? Bahwa harus dilakukan evalusi idealisme dan idiologisasi mahasiswa secara kaffah, baik secara paradigmatic, sistemik, kaderisasi bahkan bargaining distribution dan penataan kader-kadernya, guna membangun sentralistik peran kaum idealis pada saat dan sesudah di bangku akademik dan menjadi seorang aktivis. Idialisme menjadi rapuh ketika metodologi dan system di atas semerawut bahkan tidak berarah, pemahaman paradigma yang kacau, system yang tidak sistemik (amburadul), kaderisasi yang acak-acakan, bargaining yang tidak jelas (nyasar-nyasar), menjadi sederetan potret kaum idealis kita sampai hari ini. wallahu a`lam.


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: